Oleh: Richie Hermawan
Film Stand by Me Doraemon adalah film yang berasal dari Jepang yang dirilis pada 8 Agustus 2014. Di Indonesia, film ini mulai ditayangkan secara resmi pada 10 Desember 2014. Saat kecil kita menonton film ini mungkin hanya terasa hiburan. Ceritanya sederhana, doraemon robot dari masa depan yang membantu Nobita dengan berbagai alat ajaibnya agar masa depan Nobita lebih baik. Ketika Doraemon dirasa cukup untuk membantu Nobita, Doraemon diminta kembali ke masa depan dan hal ini menjadi kesan perpisahan. Ketika kita menonton kembali film ini di usia yang lebih dewasa, ada bagian film yang terasa lebih relevan dari yang diingat saat kecil yaitu momen ketika Doraemon harus pergi.
Bagian perpisahan itu lebih terasa sederhana, lebih nyata. Saat doraemon pergi, tidak ada yang bisa dilakukan, tidak ada cara untuk menahannya, tidak ada alat ajaib yang bisa mengubah keadaan. Nobita yang selama ini selalu bergantung kepada Doraemon. Meskipun dia anak yang manja, ceroboh, dia sering gagal, ragu, sering dipukulin Gian dan selalu membutuhkan pertolongan dari Doraemon. Adanya Doraemon di kehidupan Nobita menjadi sahabat yang selalu dapat diandalkan. Apapun masalah yang dihadapi Nobita, Doraemon pasti akan selalu membantunya. Namun ketika kehadiran dia hilang, tidak ada yang selalu berada di sisi Nobita lagi, yang tersisa hanyalah Nobita sendiri seperti sebelum kedatangan Doraemon.
Kerennya film ini, ia tidak mengubah karakter Nobita menjadi tiba tiba kuat. Nobita tetaplah Nobita, ia masih ragu, manja, penakut, dan dengan banyak kekurangan lainnya. Tetapi ada satu perubahan yang ia lakukan sebelum Doraemon pergi, ia mencoba menghadapi sesuatu tanpa bergantung dengan Doraemon, meskipun ia takut menjalaninya tapi ia harus melakukan perubahan tersebut. Hal itu dilakukan agar Doraemon lebih tenang dan percaya untuk berpisah dari Nobita. Perubahan ini mungkin terlihat seperti perubahan sederhana, tetapi bagi Nobita ini perubahan sederhana inilah yang bisa dilakukan Nobita untuk sahabat yang selalu ada di sisinya Doraemon.
Dalam kehidupan nyata, banyak orang memiliki sosok “Doraemon” versi mereka sendiri, bisa jadi itu orang lain, keluarga, sahabat, kenyamanan tertentu, atau bahkan kebiasaan yang membuat hidup terasa lebih mudah. Selama hal itu ada, seseorang bisa menunda keberanian untuk benar benar berdiri sendiri, akan tetapi apakah semua hal itu selalu ada?
Akan ada satu momen ketika suatu hal yang selama ini menjadi tempat bergantung tiba tiba menghilang. Tapi ketika hal tersebut hilang, kita tidak selalu siap menghadapinya, waktu tidak pernah menunggu kita untuk siap. Dititik itulah kita dihadapkan pada pilihan yang sebenarnya bukan lah pilihan, seseorang milih tetap diam atau mulai melangkah sendiri. Kita terpaksa memilih disaat kita berada di keadaan yang tidak tepat untuk membuat keputusan. Kita dipaksa untuk siap oleh waktu meskipun dalam keadaan hancur.
Film ini mengingatkan kita bahwa untuk menjadi lebih dewasa bukan tentang berubah menjadi kuat dalam sekejap. Dari Nobita kita belajar untuk menjalani proses belajar saat menghadapi kondisi yang tidak nyaman, belajar berani melangkah tanpa ada kepastian untuk berhasil, tanpa ada jaminan jika gagal, tanpa ada seseorang yang selalu datang membantu. Pada akhirnya perpisahan antara Doraemon dan Nobita bukan hanya tentang kehilangan teman, tetapi tentang kemandirian.
Film ini terasa sangat emosional bukan karena sedih, tetapi karena film ini terlalu dekat dengan kenyataan saat ini. Dari film ini kita belajar bahwa tidak semua hal dapat kita pertahankan. Ketika hal itu hilang, satu satunya yang bisa dilakukan hanya berusaha siap menghadapinya dan terus berjalan meskipun pelan. Pada akhirnya yang ditinggalkan Doraemon bukanlah kepergiannya, melainkan kemandirian yang terpaksa tumbuh setelah dia pergi.***
Penulis adalah mahasiswa UNAND