DURI (Populisnews) — Semangat intelektual dan kepedulian terhadap isu kemanusiaan di Papua mewarnai agenda diskusi panel dan nonton bareng film dokumenter Pesta Babi yang digelar oleh gabungan Aliansi Mahasiswa Pemuda Duri Bengkalis (16/05/2026). Kegiatan yang diprakarsai oleh Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Komisariat Duri ini menjadi ruang refleksi kritis atas berbagai persoalan sosial, kemanusiaan, dan pembangunan yang hingga kini masih membayangi tanah Papua.
Acara yang dihadiri mahasiswa lintas organisasi (BEM ITMG, HMI Duri, IMKM, Duri Hijau), akademisi, Alumni KAMMI dan HMI serta pemuda daerah tersebut berlangsung hangat namun penuh makna walaupun ada intimidasi dari aparat. Film Pesta Babi dijadikan medium untuk membuka ruang dialog mengenai realitas kehidupan masyarakat Papua, ketimpangan pembangunan, pendekatan keamanan, hingga persoalan hak asasi manusia yang dinilai masih membutuhkan perhatian serius dari negara.

Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Duri, Efri Su'if dalam penyampaiannya menegaskan bahwa kritik yang disampaikan mahasiswa bukanlah bentuk kebencian terhadap negara, melainkan panggilan moral agar pemerintah lebih serius menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, termasuk masyarakat Papua.
“Papua tidak cukup hanya dipandang dari sisi konflik dan keamanan. Papua adalah tentang manusia, tentang keadilan, pendidikan, kesehatan, dan masa depan generasi muda yang harus diperjuangkan bersama,” ujarnya dalam forum diskusi.
Ia menilai film Pesta Babi menjadi pengingat bahwa pendekatan represif semata tidak akan mampu menyelesaikan akar persoalan di Papua. Menurutnya, negara perlu membuka ruang dialog yang lebih luas, mengedepankan pendekatan kemanusiaan, serta melibatkan masyarakat adat, tokoh agama, pemuda, dan mahasiswa dalam proses penyelesaian konflik sosial di Papua.
Dalam forum tersebut, Ketum HMI Duri, Maratoga juga menyampaikan harapan agar pemerintah pusat tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi turut memastikan pembangunan sumber daya manusia berjalan merata. Pendidikan berkualitas, akses kesehatan, perlindungan masyarakat adat, serta pemberdayaan ekonomi lokal disebut sebagai langkah mendesak yang harus diprioritaskan.
Selain itu, forum mahasiswa dan pemuda yang hadir turut menawarkan beberapa solusi konkret terhadap persoalan Papua, di antaranya mendorong dialog nasional yang inklusif dengan melibatkan tokoh adat, pemuda Papua, akademisi, dan pemerintah secara terbuka serta berkelanjutan..
Kedua memperluas akses pendidikan dan beasiswa bagi generasi muda Papua agar tercipta pemerataan kualitas sumber daya manusia.
"Sokusi ketiganya mengutamakan pendekatan kesejahteraan dibanding pendekatan keamanan, terutama dalam menangani konflik sosial di wilayah-wilayah rawan," bebernya
Untuk solusi ketlempat, Penguatan perlindungan hak masyarakat adat terhadap tanah, budaya, dan identitas lokal yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Papua.
"Meningkatkan transparansi penegakan hukum dan perlindungan HAM, sehingga masyarakat memperoleh rasa aman dan kepercayaan terhadap negara." Imbuhnya
Diskusi panel tersebut juga menjadi simbol bahwa mahasiswa masih memegang peran penting sebagai penyambung suara rakyat dan penjaga nilai demokrasi. Para peserta berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi budaya intelektual yang terus hidup di tengah masyarakat kampus dan ruang publik.
Dengan mengangkat isu Papua melalui film dan dialog terbuka, mahasiswa Duri ingin menunjukkan bahwa persoalan bangsa tidak boleh disikapi dengan kebencian atau stigma, melainkan dengan empati, keberanian berdialog, dan kesungguhan mencari solusi bersama.
Di akhir acara, peserta menyalakan semangat persatuan dan menyerukan agar seluruh elemen bangsa menjaga ruang demokrasi yang sehat, menjunjung nilai kemanusiaan, serta bersama-sama mengawal terciptanya keadilan sosial bagi masyarakat Papua dan seluruh rakyat Indonesia. ***