PEKANBARU, populisnews.com - Gerah dengan ketidakpastian yang berlarut-larut, ratusan atlet Pekan Olahraga Nasional (PON) dan Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) Riau menggelar aksi damai untuk menagih sisa bonus apresiasi prestasi mereka.
Aksi damai tersebut dipusatkan di Tugu Tanjak Stadion Utama Riau. Massa dipimpin koordinator lapangan Darman Hutauruk dan Dariswan Koto. Mereka membawa pengeras suara serta berbagai spanduk berisi tuntutan agar Pemerintah Provinsi Riau segera memenuhi komitmen pembayaran bonus yang dijanjikan kepada atlet dan pelatih peraih prestasi.
Usai berorasi di Tugu Tanjak, massa kemudian bergerak ke Kantor Dispora Riau. Bagi mereka, alasan keterbatasan anggaran tak lagi sanggup mengobati rasa kecewa. Yang mereka butuhkan saat ini adalah tanggal pasti kapan hak mereka dilunasi, bukan sekadar janji manis yang terus bergeser.
Sekitar pukul 07.30 WIB, perwakilan massa akhirnya diterima langsung oleh Kepala Dispora Riau, H. Yurnalis Basri, yang didampingi Kasat Pol PP Riau, Sri Sadono Mulyanto.
Dalam mediasi tersebut, Yurnalis menjelaskan bahwa berkas administrasi pencairan sebenarnya sudah berproses dan Surat Keputusan (SK) telah ditandatangani pimpinan. Namun, masalah utamanya ada di isi dompet daerah.
"Pembayaran bonus yang terealisasi baru sekitar 45 persen. Sisa 55 persen lagi masih mengantre karena kondisi keuangan daerah kita sedang defisit fiskal," ungkap Yurnalis.
Penjelasan itu belum sepenuhnya memuaskan para atlet. Koordinator aksi, Darman Hutauruk, menegaskan bahwa komunikasi dengan Dispora sebenarnya sudah sering dilakukan. Namun, jawaban yang didapat selalu mengambang tanpa kepastian tanggal.
Sayangnya, dalam pertemuan itu Dispora juga belum berani memasang badan memberi tenggat waktu. Yurnalis hanya berjanji akan membawa masalah ini ke pimpinan daerah dan mengabarkan perkembangannya kemudian.
Meski belum membawa pulang tanggal pasti, massa akhirnya membubarkan diri secara tertib tanpa ada insiden.
Aksi ini jadi sentilan keras bagi pemerintah daerah. Di balik megahnya panggung kemenangan dan nama harum Riau yang dibawa para atlet ke tingkat nasional, ada hak-hak mereka yang masih tertahan. Penghargaan atas keringat atlet sejatinya tak boleh berhenti di seremoni dan tepuk tangan saja, tapi juga dituntaskan hingga rupiah terakhir yang dijanjikan.(*)