Rohil (PNC) Peringatan Hari Pramuka ke-65 menjadi momentum untuk memperkuat kembali peran Gerakan karakter sekaligus ruang pembentukan generasi muda yang adaptif, produktif, mandiri, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan nyata di tengah perubahan sosial, teknologi, ekonomi, dan lingkungan berlangsung semakin cepat.
Hal itu disampaikan Asisten I bidang Kesra, Rahmatul Zamri , saat memimpin Hari Pramuka , Jumat ( 14/8/26) dihalaman Kantor BPKAD Di Bagansiapiapi
Rahmatul Zamri menyampaikan, perjalanan 65 tahun, Gerakan Pramuka dinilai telah memberikan kontribusi penting dalam membentuk generasi muda Indonesia yang beriman dan bertakwa, berkarakter, disiplin, bertanggung jawab, serta memiliki kecintaan terhadap tanah air.
Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi yang memungkinkan anggota Pramuka tumbuh sebagai individu yang mampu berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan dan pengabdian kepada negara.
Gerakan Pramuka juga telah melahirkan berbagai generasi yang kemudian berkiprah sebagai pemimpin, pendidik, ilmuwan, aparatur negara, pekerja sosial, wirausahawan, relawan kemanusiaan, serta profesional di berbagai bidang.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan kepramukaan tidak berhenti pada aktivitas organisasi, tetapi memiliki dimensi pembentukan sumber daya manusia berorientasi pada pengabdian.
Dimana Nilai-nilai yang terkandung dalam Trisatya dan Dasa Darma menjadi pedoman fundamental dalam membangun karakter anggota Pramuka agar memiliki ketangguhan moral dan sosial dalam menghadapi dinamika zaman. Karena itu, Hari Pramuka tidak semata-mata diposisikan sebagai peringatan seremonial tahunan, melainkan sebagai momentum untuk memperbarui komitmen bersama dalam memperkuat pendidikan karakter sebagai salah satu fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Pada peringatan Hari Pramuka ke-65 tahun 2026, Gerakan Pramuka mengusung tema “Berkreasi, Berinovasi, Terampil dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan.” Tema tersebut merefleksikan komitmen Gerakan Pramuka untuk mengambil bagian dalam agenda nasional, khususnya penguatan swasembada pangan, energi, dan air sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan nasional.
Swasembada pangan, dalam perspektif tersebut, tidak hanya berkaitan dengan aktivitas produksi pertanian. Di dalamnya terdapat aspek pendidikan, penguasaan keterampilan, pemanfaatan teknologi, kewirausahaan, pengelolaan sumber daya, hingga kesiapan generasi muda untuk memahami dan ikut menyelesaikan persoalan yang berkembang di lingkungan sekitarnya.
Melalui pendidikan kepramukaan, generasi muda didorong untuk mengenal berbagai sektor produktif, seperti pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan. Pada saat yang sama, mereka diarahkan untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan, mengembangkan pemanfaatan teknologi tepat guna, serta menumbuhkan semangat kewirausahaan sejak usia dini.
Kemudian Orientasi pendidikan kepramukaan juga terus berkembang. Jika sebelumnya dikenal dengan pendekatan learning by doing atau belajar melalui pengalaman langsung, paradigma tersebut kini diperluas menjadi learning, creating and solving—belajar, mencipta, sekaligus menyelesaikan persoalan yang nyata.
Pendekatan itu menjadi semakin relevan ketika generasi muda berhadapan dengan perubahan dunia yang berlangsung secara simultan. Perubahan iklim, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan, dinamika geopolitik, ketahanan pangan dan energi, serta transformasi dunia kerja menghadirkan tantangan yang tidak dapat direspons hanya dengan penguasaan pengetahuan.
Di sisi lain, generasi muda juga menghadapi persoalan sosial seperti penyalahgunaan narkoba, perundungan, kekerasan, penyebaran informasi palsu, perjudian daring, serta kecenderungan menurunnya kepedulian sosial.
Kondisi tersebut menuntut pendidikan yang tidak hanya membekali generasi muda dengan kompetensi teknis, tetapi juga memperkuat karakter, etika, solidaritas, semangat gotong royong, dan wawasan kebangsaan.
Dimana Teknologi, dalam konteks itu, harus ditempatkan sebagai instrumen yang memperluas kemampuan manusia, bukan menggantikan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasinya.
"Semakin besar kemampuan yang diberikan teknologi, semakin penting pula karakter sebagai pengarah agar kemampuan tersebut digunakan untuk menghasilkan manfaat bagi masyarakat.," katanya
Selain itu juga Kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian penting dari proses pendidikan tersebut. Melalui berbagai kegiatan nyata, anggota Pramuka dapat diperkenalkan pengelolaan sampah, efisiensi pemanfaatan sumber daya, energi bersih, serta optimalisasi potensi lokal sebagai bagian dari upaya membangun kehidupan yang produktif dan berkelanjutan.
Gerakan Pramuka diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman kepada peserta didik, tetapi juga membentuk wawasan, keterampilan, kedisiplinan, keberanian untuk mencoba, serta kemampuan mengembangkan gagasan. Kompetensi tersebut
Selanjutnya dapat diterapkan di gugus depan, sekolah, keluarga, maupun lingkungan masyarakat. Dengan demikian, pengalaman yang diperoleh dalam pendidikan kepramukaan diharapkan berkembang menjadi kegiatan konkret sesuai dengan potensi masing- masing daerah. Bentuknya dapat berupa kegiatan menanam dan memproduksi pangan, pengelolaan lingkungan, pemanfaatan teknologi, pengembangan usaha, kegiatan sosial, hingga penciptaan inovasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Kontribusi tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045, yakni generasi yang berkarakter, terampil, mandiri, produktif, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki semangat pengabdian yang kuat kepada bangsa dan negara.
Gerakan Pramuka juga menaruh harapan besar kepada peserta didik yang saat ini sedang menjalani proses pendidikan. Mereka diproyeksikan menjadi generasi yang kelak berkiprah sebagai petani dan inovator pangan, ilmuwan, teknolog, wirausahawan, profesional, pemimpin masyarakat, hingga pemimpin bangsa yang berkarakter dan berintegritas.
Peringatan Hari Pramuka ke-65 sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara Gerakan Pramuka dan berbagai pemangku kepentingan. Dukungan pemerintah daerah, TNI dan Polri, pembina dan pelatih, orang tua, dunia usaha, media massa, organisasi kemasyarakatan, relawan, serta berbagai mitra strategis dinilai memiliki arti penting dalam memastikan pendidikan kepramukaan tetap relevan dengan kebutuhan generasi muda.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan, tetapi berkembang menjadi kemitraan yang berkelanjutan dalam membangun ekosistem pendidikan dan pembinaan generasi muda. Semakin kuat sinergi yang dibangun, semakin besar pula peluang Gerakan Pramuka memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan manusia dan kemajuan bangsa.
Pada akhirnya, peringatan Hari Pramuka ke-65 diharapkan menjadi titik tolak untuk memperbarui tekad, memperkuat, memperluas pengabdian, serta meningkatkan kontribusi nyata Gerakan Pramuka bagi Indonesia.
Gerakan Pramuka diharapkan terus menjadi kawah candradimuka dalam pembentukan karakter bangsa tempat generasi muda ditempa agar memiliki integritas, wawasan kebangsaan,
Selain kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus semangat pengabdian yang tidak mudah padam (**)