Pekanbaru,populisnews.com – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Paguyuban Kaulo Ngayogyakarta dan Sekitarnya (PKNS) Riau tahun 2026 di Taman Rekreasi Alam Mayang tak sekadar menjadi ajang silaturahmi. Lebih dari itu, momen tersebut menjelma menjadi panggung pelestarian budaya, menghadirkan perpaduan seni Jawa yang sarat makna dan memikat perhatian para pengunjung.
Salah satu penampilan yang mencuri perhatian datang dari kolaborasi antara Ketoprak Manunggal Budoyo dan Reog Singo Taruno. Pagelaran ini tidak hanya menyuguhkan pertunjukan visual yang spektakuler, tetapi juga menghidupkan kembali kisah legenda yang menjadi cikal bakal lahirnya Reog Ponorogo.
Dalam balutan cerita “Prabu Klono Sewandono dan Dewi Songgolangit”, penonton diajak menyelami kisah klasik penuh simbol dan filosofi. Lakon tersebut mengisahkan perjalanan cinta dan perjuangan Prabu Klono Sewandono dari Kerajaan Bantarangin yang melamar Putri Songgolangit dari Kediri. Namun, perjalanan itu tidak mudah. Ia harus menghadapi rintangan besar, termasuk pertarungan melawan Singabarong—tokoh simbolik yang kini diwujudkan dalam tarian Dadak Merak yang ikonik dalam Reog.
Karsono Pawiro, salah satu penggiat seni budaya Jawa di Riau, menyebut kolaborasi ini sebagai sesuatu yang jarang terjadi dalam dunia pertunjukan tradisional.
“Kolaborasi ketoprak dengan reog seperti ini bisa dibilang langka. Tapi berkat ide dan kerja sama berbagai pihak, Alhamdulillah pertunjukan ini bisa terwujud dengan baik,” ujarnya, Senin (27/4/2026).
Ketoprak Manunggal Budoyo sendiri merupakan bagian dari Laboratorium Budaya Anak Negeri Alam Mayang Pekanbaru yang konsisten menghadirkan ruang ekspresi bagi seni tradisional. Melalui pertunjukan ini, mereka tidak hanya menghibur, tetapi juga mengedukasi generasi muda tentang akar budaya Nusantara.
Lebih jauh, Karsono menjelaskan bahwa kisah dalam Reog bukan sekadar cerita rakyat, melainkan sarat dengan simbol kehidupan. Sosok singa dalam Dadak Merak melambangkan kekuatan, sementara burung merak mencerminkan keindahan dan keanggunan. Perpaduan keduanya menjadi gambaran keseimbangan dalam kehidupan manusia.
“Nilai-nilai ini penting dikenalkan kepada generasi muda, agar mereka tidak hanya mengenal budaya secara visual, tapi juga memahami maknanya,” tambahnya.
Bagi masyarakat pecinta seni budaya di Bumi Melayu, pertunjukan ini menjadi lebih dari sekadar hiburan. Ia hadir sebagai peristiwa sosial dan ruang perjumpaan lintas budaya, mempertemukan tradisi Jawa dengan kearifan lokal Riau dalam satu harmoni.
Di tengah arus modernisasi, pagelaran seperti ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk terus dihidupkan. Dipentaskan, diceritakan, dan diwariskan dari generasi ke generasi. (*)