JAKARTA,populisnews.com – Semangat kebangsaan dan kecintaan terhadap tanah kelahiran menggema dalam rangkaian Milad ke-3 Persatuan Masyarakat Riau Indonesia (PMRI) yang digelar di Gedung Sriwijaya DPD RI, Jakarta, Jumat (13/6/2026).
Mengusung tema besar "Riau untuk Indonesia", organisasi yang menghimpun mahasiswa dan masyarakat Riau di berbagai daerah itu menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi bagi pembangunan bangsa, tanpa melupakan akar budaya dan identitas Melayu.
Acara yang dihadiri tokoh adat, pejabat pemerintah, akademisi, aktivis mahasiswa, hingga anggota legislatif tersebut menjadi panggung refleksi sekaligus deklarasi arah perjuangan PMRI ke depan.
Ketua Umum PMRI, Dr. H. Rusli Effendi, S.Pd.I, SE, M.Si, dalam sambutannya menegaskan bahwa slogan "Raga di Rantau, Jiwa di Riau" bukan sekadar kalimat simbolik, melainkan panggilan moral bagi generasi muda Riau yang sedang menimba ilmu dan berkarier di berbagai penjuru negeri.
"Sejauh apa pun langkah kaki kalian merantau, setinggi apa pun jabatan yang diraih, kepedulian dan aksi nyata harus tetap pulang untuk membangun Riau. Kita tidak boleh menjadi generasi yang lupa di mana ari-ari kita ditanam," tegas Rusli.
Menurutnya, dalam perjalanan tiga tahun terakhir, PMRI telah bertransformasi menjadi rumah besar yang menyatukan berbagai paguyuban mahasiswa dan masyarakat Riau secara nasional.
Sebagai bentuk komitmen organisasi, PMRI sebelumnya telah meluncurkan lima lembaga, yayasan dan badan strategis, serta menandatangani nota kesepahaman Program 1.000 Doktor bersama empat perguruan tinggi.
Pada momentum Milad ke-3 ini, PMRI kembali melahirkan langkah konkret melalui penandatanganan kerja sama penulisan buku "Riau untuk Indonesia" bersama Lembaga Bumi Pulih Lestari yang dipimpin oleh Stephanie Iriana Pasaribu.
Buku tersebut akan ditulis secara kolaboratif oleh sejumlah akademisi dan peneliti, di antaranya Hanief Arief dari Badan Riset dan Inovasi Nasional serta Nurhamin.
Rusli menjelaskan, buku tersebut akan mengangkat tiga pilar utama kontribusi Riau terhadap Indonesia, yakni Bahasa Melayu Riau sebagai akar Bahasa Indonesia, kekayaan sumber daya alam yang menjadi salah satu penopang ekonomi nasional, serta pengorbanan Sultan Syarif Kasim II yang menyerahkan kekayaan kerajaan demi kemerdekaan Republik Indonesia.
"Riau bukan sekadar wilayah administratif di peta Sumatera. Riau adalah penopang tegaknya republik ini," ujarnya.
Gaungkan Daerah Istimewa Riau
Dalam pidatonya, Rusli juga menyoroti paradoks yang dihadapi Riau. Di tengah besarnya kontribusi terhadap negara melalui minyak bumi, gas alam, kelapa sawit hingga bahasa nasional, menurutnya masyarakat lokal dan masyarakat adat masih menghadapi berbagai persoalan ketimpangan.
Ia menyinggung isu kebakaran lahan gambut, deforestasi, hingga belum optimalnya pemerataan kesejahteraan sebagai tantangan yang harus dijawab negara.
Dari forum Dialog Kebangsaan tersebut, PMRI kembali menegaskan dukungannya terhadap perjuangan mewujudkan Daerah Istimewa Riau (DIR).
"Riau telah memberikan segalanya untuk Indonesia. Sudah saatnya Indonesia memberikan keadilan yang setimpal bagi rakyat Riau. Perjuangan Daerah Istimewa Riau adalah perjuangan harga diri dan hak historis yang harus diperjuangkan bersama," tegasnya.

Suasana dialog kebangsaan yang diinisiasi PMRI di Gedung DPD RI
Sementara itu, sambutan tertulis Pelaksana Tugas Gubernur Riau, SF Hariyanto, yang dibacakan Sekretaris Daerah Provinsi Riau, Syahrial Abdi, menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia sebagai kunci memenangkan persaingan masa depan.
Menurutnya, kompetisi ke depan bukan lagi antarwilayah, melainkan antartalenta. Karena itu, Pemerintah Provinsi Riau menjadikan pengembangan kualitas SDM sebagai prioritas utama.
Ia menyebutkan bahwa pada tahun 2026 Pemprov Riau mengalokasikan sekitar Rp62 miliar untuk Program Beasiswa Riau yang menjangkau 3.644 mahasiswa.
"Beasiswa bukan sekadar bantuan pendidikan, tetapi investasi masa depan," tulisnya.
Syahrial juga mengapresiasi semangat diaspora Riau yang tergabung dalam PMRI. Menurutnya, pembangunan daerah tidak hanya ditentukan oleh masyarakat yang tinggal di Riau, tetapi juga oleh putra-putri terbaik Riau yang berkarya di berbagai daerah bahkan mancanegara.
"Kontribusi tidak selalu harus dilakukan dengan pulang kampung. Kontribusi dapat berupa jejaring, investasi, transfer pengetahuan, membuka akses pasar, dan membimbing generasi muda. Semangat 'Raga di Rantau, Jiwa di Riau' adalah modal sosial yang sangat besar untuk pembangunan daerah," katanya.
Ia berharap forum tersebut mampu melahirkan kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, investor, diaspora, dan generasi muda dalam mempercepat kemajuan Provinsi Riau.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu Riau Datuk Seri H. Marjohan Yusuf, Sekdaprov Riau Syahrial Abdi, anggota DPR RI asal Riau, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta aktivis mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Milad ke-3 PMRI pun menjadi lebih dari sekadar perayaan usia organisasi. Ia menjelma menjadi ruang konsolidasi gagasan, tempat lahirnya komitmen baru, sekaligus pengingat bahwa sejauh apa pun anak-anak Riau merantau, denyut pengabdian mereka tetap bermuara ke Bumi Lancang Kuning.(*)

