Duri adalah kota yang tumbuh dari denyut industri, tetapi hari ini kita menyaksikan kenyataan yang menghadirkan kegelisahan. Di tengah geliat pembangunan dan kemajuan zaman, masih ada sejumlah persoalan yang terus menghantui kehidupan masyarakat, yaitu : narkoba yang merenggut masa depan generasi muda, kebakaran hutan dan lahan yang mengaburkan langit harapan, kriminalitas yang mengusik rasa aman, jalan-jalan berlubang dan sampah yang menjadi simbol lambannya perhatian terhadap kebutuhan publik, hingga persoalan air bersih yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Kita hidup di negeri yang kaya, tetapi masih menyaksikan anak-anak muda terjebak dalam lingkaran narkotika. Kita berdiri di atas tanah yang subur, tetapi setiap musim kemarau masih dihantui oleh asap dan kebakaran lahan. Kita berbicara tentang kemajuan, tetapi masih melewati jalan-jalan berlubang yang merenggut kenyamanan bahkan nyawa. Kita menggaungkan kesejahteraan, tetapi masih ada masyarakat yang harus menunggu berjam-jam demi mendapatkan air bersih.
Data terbaru menunjukkan bahwa situasi ini bukan sekadar asumsi. Dalam periode Januari hingga Februari 2026 saja, Polres Bengkalis berhasil mengungkap 105 kasus narkoba dengan 162 tersangka. Barang bukti yang diamankan mencapai hampir 20 kilogram sabu serta ribuan gram ganja.
Bahkan pada April 2026, Polres Bengkalis kembali mengungkap 84 kasus narkoba dengan 135 tersangka. Wilayah Mandau, yang menjadi pusat aktivitas Duri, tercatat sebagai salah satu daerah dengan jumlah pengungkapan tertinggi.
Lebih mengkhawatirkan lagi, dalam Operasi Antik Lancang Kuning 2026, aparat berhasil mengungkap 74 kasus dengan 101 tersangka dan menemukan indikasi keterlibatan jaringan narkoba lintas wilayah bahkan internasional yang memanfaatkan posisi geografis Bengkalis sebagai jalur masuk peredaran barang haram.
Ini bukan sekadar angka. Di balik setiap tersangka, ada keluarga yang hancur. Ada masa depan yang runtuh. Ada mimpi-mimpi pemuda yang terkubur sebelum sempat tumbuh.
Di sisi lain, ancaman karhutla masih menjadi luka tahunan Riau. Meski jumlah titik panas sempat mengalami penurunan signifikan pada 2025, ancaman kebakaran lahan tetap menjadi persoalan serius yang memerlukan kewaspadaan bersama.
Sementara itu, persoalan air bersih di Duri masih menjadi pekerjaan rumah besar. Monitoring DPRD Bengkalis terhadap PDAM Duri menunjukkan bahwa pelayanan air bersih belum optimal akibat keterbatasan sumber air baku dan distribusi yang masih terbatas. Ribuan pelanggan masih menanti pelayanan yang lebih baik.
Semua persoalan ini seakan saling terhubung. Ketika lapangan pendidikan karakter melemah, narkoba tumbuh. Ketika kesadaran lingkungan rendah, masalah sampah dan karhutla muncul. Ketika pengawasan sosial menurun, kriminalitas meningkat. Ketika pembangunan tidak merata, jalan rusak menjadi pemandangan biasa. Ketika tata kelola belum maksimal, air bersih menjadi barang yang sulit dijangkau sebagian masyarakat.
Namun sejarah selalu membuktikan bahwa perubahan besar tidak lahir dari mereka yang hanya mengeluh. Perubahan lahir dari mereka yang bergerak.
Pemuda Duri harus menjadi pelopor solusi.
Pertama, membangun Gerakan Kampung Anti Narkoba berbasis masjid, sekolah, kampus, dan komunitas pemuda. Pencegahan harus lebih masif daripada penindakan. Literasi bahaya narkoba perlu masuk ke ruang-ruang publik dan media sosial yang dekat dengan generasi muda.
Kedua, membentuk Relawan Pemuda Peduli Lingkungan dan Karhutla yang aktif melakukan edukasi, patroli lingkungan, penghijauan, serta kampanye digital menjaga hutan dan lahan.
Ketiga, menghadirkan Pos Pemuda Aman Lingkungan yang menjadi ruang kolaborasi masyarakat, tokoh agama, dan aparat dalam mencegah kenakalan remaja serta kriminalitas sejak dini.
Keempat, menggerakkan Pemuda Pengawas Infrastruktur Daerah, yakni komunitas yang aktif mendokumentasikan dan melaporkan jalan rusak, fasilitas publik bermasalah, serta mengawal transparansi pembangunan melalui teknologi digital.
Kelima, mendorong lahirnya Gerakan Pemuda Peduli Air Bersih, melalui edukasi konservasi air, pembuatan embung kecil masyarakat, penanaman pohon di kawasan resapan, serta pengawalan kebijakan pelayanan air bersih yang lebih merata.
Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton yang mengutuk keadaan dari kejauhan. Pemuda harus menjadi aktor yang turun langsung ke lapangan.
Karena sesungguhnya ancaman terbesar bagi Duri bukanlah narkoba, bukan karhutla, bukan jalan berlubang, dan bukan pula krisis air bersih. Ancaman terbesar adalah ketika generasi mudanya kehilangan kepedulian.
Duri membutuhkan pemuda yang berani berpikir, berani bersuara, dan berani bekerja. Pemuda yang tidak hanya hadir saat seremoni, tetapi juga saat masyarakat membutuhkan solusi.
Sebab masa depan Bengkalis tidak akan ditentukan oleh seberapa banyak masalah yang datang, melainkan oleh seberapa besar keberanian generasinya untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Dan hari ini, sejarah sedang menunggu: apakah pemuda Duri akan menjadi saksi keadaan, atau menjadi pelaku perubahan.
Dari Duri untuk Indonesia, mari menjadi generasi yang tidak sekadar hidup dalam sejarah, tetapi menulis sejarah melalui karya, pengabdian, dan perubahan nyata bagi indonesia.***
Penulis : Efri Su'if (Ketua Umum KAMMI Duri ) dan penulis buku Berperan Indonesia (Bersama Pemuda Perubahan Indonesia)
Catatan redaksi : Semua isi tulisan bukan mewakili sikap redaksi, melainkan murni dari pandangan dan gagasan penulis

