Tangis Seorang Ibu di Pelalawan Pecah, Tiga Anaknya Terancam Putus Sekolah Usai Bantuan PIP Terhenti

Tangis Seorang Ibu di Pelalawan Pecah, Tiga Anaknya Terancam Putus Sekolah Usai Bantuan PIP Terhenti
Foto : Ilustrasi

Pangkalan Kerinci (Populisnews.com)– Kisah pilu menyelimuti kehidupan Gladisy Syahro, warga Kelurahan Pangkalan Kerinci Kota. Di tengah himpitan ekonomi yang semakin berat, ibu tiga anak itu kini dihantui ketakutan terbesar dalam hidupnya melihat ketiga buah hatinya terpaksa putus sekolah.

Kepedihan itu disampaikan Gladisy saat bertemu dengan Komnas Perlindungan Anak Kabupaten Pelalawan, Selasa (28/7/2026). Dengan mata berkaca-kaca dan suara bergetar, ia menceritakan perjuangan keluarganya yang kini hanya bergantung dari upah sebagai buruh tani di lahan milik orang lain.

Sementara itu, sang suami hanya mampu membantu semampunya karena kondisi kesehatan yang terus menurun akibat luka lama yang dideritanya saat bekerja beberapa tahun silam.

"Anak saya yang pertama dulu mendapat bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) sejak kelas 1 SMP sampai tamat. Tapi setelah masuk SMK, bantuannya tidak ada lagi. Begitu juga anak kedua, sejak SD sampai tamat juga menerima PIP, namun setelah masuk SMP bantuan itu berhenti. Padahal kondisi ekonomi kami semakin sulit, semua kebutuhan sekarang serba mahal," tutur Gladisy sambil menahan tangis.

Menurutnya, bantuan PIP selama ini sangat berarti bagi keluarga mereka untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak. Kini, tanpa bantuan tersebut, beban ekonomi semakin berat hingga mengancam keberlangsungan pendidikan ketiga anaknya yang saat ini masih bersekolah di jenjang SD, SMP, dan SMK.

Gladisy mengaku tidak memiliki sepeda motor untuk mengantar anak-anaknya ke sekolah. Bahkan untuk berangkat bekerja ke lahan pertanian, ia dan suaminya harus berjalan kaki sekitar 20 menit setiap hari.

"Saya hanya berharap anak-anak saya jangan sampai putus sekolah. Untuk ongkos ojek saja kami tidak mampu. Sepatu sekolah mereka sudah koyak dan berkali-kali dijahit agar tetap bisa dipakai," ujarnya.

Akibat keterbatasan tersebut, anak keduanya harus berjalan kaki menuju SMP Negeri 1 Pangkalan Kerinci. Sementara anak sulungnya yang bersekolah di SMK Negeri 1 Pangkalan Kerinci hanya bisa berangkat jika ada tumpangan. Jika tidak, ia terpaksa berjalan kaki menuju sekolah.

Di penghujung ceritanya, Gladisy berharap pemerintah dan pihak terkait dapat kembali memberikan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) kepada anak-anaknya agar mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan.

"Harapan saya sederhana, semoga bantuan PIP bisa kembali kami terima. Saya hanya ingin anak-anak tetap sekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik daripada orang tuanya," tutupnya penuh harap.

Kisah keluarga Gladisy menjadi potret nyata bahwa masih ada masyarakat yang berjuang keras demi mempertahankan pendidikan anak-anak mereka. Besar harapan agar uluran tangan dari pemerintah, para dermawan, maupun pihak terkait dapat hadir sehingga mimpi ketiga anak tersebut untuk terus mengenyam pendidikan tidak terhenti karena kemiskinan.(Tim) 

Berita Lainnya

Index